Bagi warga Nahdlatul Ulama, menyelenggarakan pertemuan rutin setiap bulan merupakan hal yang lumrah. Pertemuan tersebut dikenal dengan istilah Lailatul Ijtima’. Kata lailah berarti malam, sedangkan ijtima’ berarti pertemuan. Dengan demikian, Lailatul Ijtima’ dapat dimaknai sebagai “pertemuan malam” yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan.
Tradisi ini pada awalnya merupakan kebiasaan para kiai, yang kemudian berkembang menjadi budaya organisasi di kalangan warga dan pengurus NU. Forum tersebut dimanfaatkan untuk membahas, memecahkan, serta mencari solusi atas berbagai persoalan organisasi dan umat. Mulai dari persoalan iuran, persiapan Ramadhan, pelaksanaan tarawih, penentuan awal Ramadhan, hingga persoalan sosial kemasyarakatan yang lebih luas.
Kegiatan Lailatul Ijtima’ dapat dijumpai di seluruh tingkatan kepengurusan NU, mulai dari ranting (desa), Majelis Wakil Cabang (kecamatan), cabang (kabupaten/kota), wilayah (provinsi), hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Salah satu rangkaian pembukaan yang menjadi ciri khas dalam kegiatan ini adalah pembacaan tahlil, sebagai bentuk doa kepada arwah orang tua, para guru, kaum muslimin dan muslimat, khususnya para masyayikh serta muassis NU yang telah wafat.
Lailatul Ijtima’ yang diselenggarakan PWNU Kalimantan Tengah pada Kamis (14/05/2026) terbilang istimewa. Seluruh Ketua Tanfidziyah dan Rais Syuriyah PCNU se-Kalimantan Tengah berkumpul bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Kegiatan tersebut juga dihadiri langsung oleh Dr. KH. Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum PBNU.
Kiai kelahiran Jakarta tersebut dikenal luas sebagai ulama yang ahli dalam bidang ushul fikih, fikih, dan sastra Arab (‘Arudl). Beliau juga memperoleh gelar doktor kehormatan (Honoris Causa) di bidang sastra Arab dari UIN Sunan Ampel Surabaya.Dalam kesempatan tersebut, KH. Zulfa Mustofa mengisi pengajian kitab karya beliau sendiri berjudul Tuhfatul Qaashi wa Addaani, sebuah Kitab Biografi Syekh Nawawi Al-Bantani. Penulisan kitab tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali manuskrip ulama Nusantara yang perlahan mulai sulit ditemukan. Melalui kitab itu, beliau berharap para pembaca dan santri dapat mengambil pelajaran dari sosok Syekh Nawawi Al-Bantani.
Menurut KH. Zulfa Mustofa, kitab tersebut disusun dengan gaya bahasa klasik dan modern agar mudah dipahami sekaligus dihafal oleh para santri. Selain berisi nadzam, kitab itu juga menghadirkan banyak pelajaran dari Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai salah satu inspirator berdirinya Nahdlatul Ulama. Gagasan-gagasan Syekh Nawawi dinilai sarat dengan nilai moderasi beragama dan kecintaan terhadap tanah air.“Semoga kitab ini bermanfaat.

Saya ingin menutup dengan syair:
Saya ber-NU bersama para masyayikh,sesungguhnya saya berharap bersatu dengan ulama yang memberi faedah.
Jika tulisan saya ini masih banyak kekurangan,barangkali semoga saja banyak orang mulia yang memberikan koreksi dan tambahan,” ungkap KH. Zulfa Mustofa.
Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut berlangsung hingga pukul 22.00 WIB. Pada kesempatan itu, KH. Zulfa Mustofa juga membagikan kitab Tuhfatul Qaashi wa Addaani kepada para Ketua PCNU yang hadir.
Ketua PWNU Kalimantan Tengah, Dr. KH. Wahyudi F. Dirun, dalam sambutannya mengajak seluruh Ketua PCNU untuk memanfaatkan kegiatan Lailatul Ijtima’ dengan sungguh-sungguh sebagai bekal dalam mensyiarkan nilai-nilai ke-NU-an kepada warga Nahdliyin di daerah masing-masing.“Mumpung beliau, Kiai Zulfa Mustofa, berada di tengah-tengah kita, manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Kotawaringin Barat, Sayyid Muhammad Sulaiman Nur Basyaiban, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengajak seluruh pengurus NU di Kabupaten Kotawaringin Barat untuk kembali mengaktifkan kegiatan Lailatul Ijtima’ di semua tingkatan kepengurusan se-Kobar.
Menurutnya, kegiatan LAZISNU Kobar juga penting dirangkaikan dengan Lailatul Ijtima’ sebagai sarana mempererat silaturahmi, saling menyapa, dan menguatkan jam’iyyah sebagaimana diwariskan para masyayikh dan muassis Nahdlatul Ulama.“NU Kobar memiliki banyak lembaga yang harus terus dihidupkan, seperti Lembaga Dakwah NU, Lembaga Bahtsul Masa’il NU, hingga Lakpesdam NU,” terangnya.
Profil Singkat KH. Zulfa Mustofa
KH. Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ayahnya, KH. Muqarrabin, berasal dari Pekalongan, sedangkan ibunya, Nyai Hj. Marhumah Latifah, berasal dari Kresek, Tangerang. Beliau juga merupakan cucu kemenakan Syekh Nawawi Al-Bantani sekaligus keponakan mantan Rais Aam PBNU dan Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin.
Pendidikan dasar ditempuh di SD Al-Jihad, Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga kelas 3 SD. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan di Pekalongan hingga tamat sekolah dasar. Pendidikan tsanawiyah ditempuh di Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Simbangkulon, kemudian melanjutkan ke Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah saat naik kelas 2 tsanawiyah.
Setelah menyelesaikan pendidikan aliyah, beliau kembali ke Jakarta.Semasa muda, KH. Zulfa Mustofa bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, baik ke Universitas Al-Azhar Mesir maupun perguruan tinggi di Makkah. Namun cita-cita tersebut belum terwujud karena sang ayah wafat terlebih dahulu.
Beliau kemudian melanjutkan perjuangan ayahnya dengan mengajar di Darul Musthofa. Adapun sejumlah amanah yang pernah dan sedang diemban KH. Zulfa Mustofa antara lain:
- Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
- Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
- Sekretaris Jenderal MUI DKI Jakarta
- Wakil Majelis Pertimbangan MUI Pusat
- Ketua Komite Fatwa BPJPH Kementerian Agama RI
Informasi Media:
Portal berita ini dikelola secara profesional oleh PT. Kobar Digital Nusantara.
