PJJ Akibat Kabut Asap, Nurjanah dan Suami Kehilangan Penghasilan Kantin Sekolah

KOTAWARINGIN BARAT – Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap tak hanya berdampak pada kegiatan belajar siswa, tetapi juga memukul perekonomian masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas sekolah.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Salah satunya dialami Nurjanah, pedagang kantin di sekolah Kotawaringin Barat. Sejak pembelajaran jarak jauh mulai diberlakukan pada September 2026, pendapatan keluarganya perlahan menurun hingga akhirnya kehilangan sumber penghasilan utama ketika PJJ diterapkan secara penuh pada Oktober.

Nurjanah mengungkapkan, pada September kegiatan sekolah masih berlangsung secara bergantian. Dalam satu minggu, siswa terkadang masuk sekolah selama tiga hari, kemudian kembali menjalani PJJ. Kondisi tersebut membuat aktivitas berjualan di kantin tidak lagi berjalan normal.

Situasi semakin sulit ketika pembelajaran jarak jauh diberlakukan secara penuh pada Oktober. Ia bersama suaminya yang sama-sama bekerja di kantin sekolah tidak lagi memiliki penghasilan dari pekerjaan utama mereka.

“Penghasilan utama saya dan suami dari berjualan di kantin, Pak. Saya punya dua anak yang masih sekolah. Sekarang kebutuhan keluarga banyak yang tidak terpenuhi,” ungkap Nurjanah.

Untuk bertahan memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nurjanah mengaku terpaksa menggunakan tabungan dan modal usahanya. Padahal, modal tersebut seharusnya menjadi penopang agar usahanya tetap berjalan dan bisa menghasilkan pendapatan.Ia juga mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan es di rumah. Namun, hasilnya belum cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga. Dalam kondisi terbaik, penjualan es tersebut hanya menghasilkan sekitar Rp80 ribu.

Bagi Nurjanah, kondisi ini menjadi beban tersendiri karena kebutuhan rumah tangga terus berjalan, sementara pemasukan dari kantin yang selama ini menjadi tumpuan keluarga telah terhenti.

Di tengah situasi tersebut, ia berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan kabut asap, tetapi juga memperhatikan masyarakat kecil yang kehilangan mata pencaharian akibat dampaknya.

“Saya mohon pemerintah melihat dampak yang kami rasakan. Minimal kasih kami pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan, atau bantuan yang bisa kami manfaatkan,” harapnya.

Kisah Nurjanah menjadi gambaran bahwa dampak kabut asap tidak berhenti pada persoalan kesehatan dan pendidikan. Ketika aktivitas sekolah terganggu, masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada lingkungan sekolah turut merasakan dampak ekonomi yang nyata.

Bagi para pedagang kantin seperti Nurjanah dan suaminya, kembali bekerja dengan aman menjadi harapan besar. Namun, selama kondisi belum memungkinkan, perhatian dan solusi bagi masyarakat terdampak juga menjadi kebutuhan yang mendesak.

Di balik PJJ demi keselamatan siswa, ada keluarga yang tetap harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup ketika sumber penghasilannya terhenti.

Informasi Media:

Portal berita ini dikelola secara profesional oleh PT. Kobar Digital Nusantara.

Mungkin Anda Suka
IKLAN BAWAH (Slot 3)