PAMEKASAN — Di tengah dinamika tata niaga tembakau yang kerap diwarnai fluktuasi harga, sosok H. Khoirul Umam—atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Haji Her—muncul sebagai figur penggerak kesejahteraan petani. Keberpihakannya dalam memperjuangkan harga komoditas yang layak kini tidak hanya dirasakan di Pulau Madura, tetapi telah menjangkau para petani tembakau se-Nusantara, diiringi kepedulian sosialnya bagi warga miskin.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Dorong Tata Niaga Tembakau yang Adil
Persoalan klasik seperti pemotongan sampel tembakau yang berlebihan serta penentuan kualitas (grading) yang tidak transparan kerap menjadi keluhan utama para petani saat panen raya. Menjawab tantangan tersebut, Haji Her melalui PT Bawang Mas Group dan Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau Se-Madura (P4TM) menerapkan sistem pembelian yang adil dan terbuka.
Di gudang-gudang miliknya, ia membatasi pemotongan sampel pada batas wajar, memastikan ketepatan timbangan, dan membeli tembakau sesuai dengan kualitas sebenarnya tanpa permainan spekulasi. Langkah ini diambil untuk menjaga margin keuntungan petani agar tetap layak di tengah tingginya biaya produksi.
Jangkau Petani Tembakau Se-Nusantara
Komitmen Haji Her dalam menyerap hasil panen dengan harga tinggi kini menembus batas wilayah Madura. Jaringan dan daya serap usaha yang dipimpinnya telah merangkul para petani tembakau dari berbagai sentra produksi di berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran jaringan pembelian ini memberikan jaminan pasar yang lebih stabil bagi petani tembakau se-Nusantara, sekaligus membantu menjaga kestabilan harga tingkat petani di luar Jawa Timur.
Aksi Sosial Bedah Rumah Warga Miskin di Madura
Tidak hanya memperjuangkan nasib petani di sektor niaga, kepedulian Haji Her juga diwujudkan melalui aksi sosial kemanusiaan. Di Madura, sosoknya dikenal aktif menyalurkan bantuan pribadi bagi kaum dhuafa dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Salah satu aksi nyata yang rutin dilakukannya adalah program perbaikan rumah tidak layak huni (bedah rumah). Menggunakan alokasi dana pribadi, gubuk-gubuk reot milik warga miskin dirombak menjadi hunian yang aman, sehat, dan layak huni, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup penerima manfaat.
Julukan dari Komunitas Petani
Sematkan julukan “Pahlawan Petani Tembakau” oleh masyarakat dan komunitas tani lahir dari dampak nyata yang dirasakan langsung di lapangan. Konsistensinya dalam mengawal harga tembakau dan kepeduliannya terhadap masalah sosial menjadikannya simbol harapan bagi kemajuan ekonomi masyarakat perdesaan.
Informasi Media:
Portal berita ini dikelola secara profesional oleh PT. Kobar Digital Nusantara.
