Daftar 9 Kiai yang ditetapkan sebagai AHWA di muktamar ke-35 NU

JOMBANG — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki salah satu tahapan penting setelah sembilan ulama ditetapkan sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Kesembilan kiai tersebut nantinya memiliki peran strategis dalam menentukan Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Penetapan AHWA menjadi bagian penting dari rangkaian Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

AHWA merupakan mekanisme yang digunakan NU untuk memilih Rais Aam melalui forum para ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan. Karena itu, nama-nama yang masuk dalam sembilan anggota AHWA menjadi perhatian dalam dinamika Muktamar kali ini.

Berdasarkan hasil penghitungan suara, sembilan kiai yang memperoleh suara tertinggi dan ditetapkan sebagai anggota AHWA adalah:

  1. KH Nurul Huda Djazuli — 485 suara
  2. Tgk. KH Nuruzzahri Yahya — 477 suara
  3. Ag. Dr. KH Baharuddin HS, MA — 392 suara
  4. KH Miftachul Akhyar — 350 suara
  5. KH Afifuddin Muhajir — 339 suara
  6. KH Anwar Iskandar — 326 suara
  7. KH Anwar Manshur — 303 suara
  8. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj — 273 suara
  9. Dr. KH Abun Bunyamin, MA — 268 suara.

Perolehan suara tersebut menunjukkan ketatnya proses penjaringan. KH Nurul Huda Djazuli berada di posisi teratas dengan 485 suara, hanya terpaut delapan suara dari Tgk. KH Nuruzzahri Yahya yang memperoleh 477 suara.

Sementara itu, KH Miftachul Akhyar kembali masuk dalam jajaran AHWA. Nama tersebut memiliki posisi penting dalam dinamika kepemimpinan NU karena sebelumnya juga dipercaya sebagai Rais Aam PBNU.

AHWA dan Masa Depan Kepemimpinan NU

Penetapan sembilan anggota AHWA bukan sekadar agenda pelengkap Muktamar. Forum ini menjadi salah satu tahapan yang menentukan arah kepemimpinan syuriyah PBNU untuk lima tahun mendatang.

Sembilan kiai tersebut kemudian menjalankan mekanisme musyawarah AHWA untuk menentukan figur Rais Aam PBNU. Mekanisme ini sekaligus mencerminkan tradisi NU yang memberikan ruang besar kepada para ulama dalam menentukan kepemimpinan tertinggi di jajaran syuriyah.

Proses penjaringan sebelumnya dilakukan melalui usulan dari struktur NU di daerah. Dalam proses tersebut, panitia menerima ratusan surat usulan yang kemudian diverifikasi sebelum dilakukan penghitungan suara.

Dengan ditetapkannya sembilan anggota AHWA, tahapan Muktamar ke-35 NU pun memasuki fase yang semakin menentukan. Perhatian warga Nahdliyin kemudian tertuju pada hasil musyawarah para kiai tersebut dalam menentukan Rais Aam PBNU periode 2026–2031.

Pada akhirnya, KH Miftachul Akhyar ditetapkan kembali sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031, sedangkan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Hasil tersebut menandai terbentuknya kepemimpinan baru PBNU untuk lima tahun ke depan, dengan kombinasi kepemimpinan syuriyah dan tanfidziyah yang diharapkan mampu membawa NU menghadapi tantangan organisasi, kebangsaan, keumatan, serta perkembangan sosial yang semakin kompleks.

Muktamar ke-35 NU akhirnya tidak hanya menghasilkan nama-nama pemimpin baru, tetapi juga menegaskan kembali posisi ulama sebagai penjaga arah perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama.

Informasi Media:

Portal berita ini dikelola secara profesional oleh PT. Kobar Digital Nusantara.

Mungkin Anda Suka
IKLAN BAWAH (Slot 3)