
Harga Gas Melon Melonjak, Api di Dapur Warga Kumai Kian Menguji Kesabaran
Jika kondisi ini benar terjadi dan berlangsung lama, dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor. Harga makanan berpotensi ikut naik. Daya beli masyarakat bisa melemah. Roda ekonomi kecil yang selama ini berputar perlahan bisa tersendat. Seperti bara dalam sekam, persoalan kecil dapat membesar apabila tidak segera ditemukan titik terang.
Situasi ini menjadi semakin sensitif karena bulan suci Ramadhan tinggal menghitung waktu. Bagi masyarakat Kumai, Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga waktu meningkatnya aktivitas dapur. Menu sahur dan berbuka membutuhkan persiapan lebih. Usaha kuliner musiman mulai bergerak. Permintaan bahan pokok biasanya meningkat. Dalam kondisi seperti ini, kestabilan harga energi rumah tangga menjadi sangat penting.
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan berbagi dan saling menguatkan. Tradisi takjil, buka bersama, hingga kegiatan sosial menjadi warna tersendiri di tengah masyarakat. Jika harga kebutuhan pokok melonjak menjelang bulan suci, kekhawatiran muncul bahwa suasana yang seharusnya penuh ketenangan justru diwarnai kegelisahan ekonomi. Pepatah mengatakan, “Air tenang jangan diusik,” stabilitas harga menjadi bagian dari menjaga ketenangan itu.



