
Harga Gas Melon Melonjak, Api di Dapur Warga Kumai Kian Menguji Kesabaran
KOTAWARINGIN BARAT – Di dapur-dapur sederhana warga Kecamatan Kumai, nyala api kompor adalah simbol kehidupan. Dari sanalah nasi mengepul, air mendidih, dan harapan keluarga dimulai setiap pagi. Namun ketika isu harga LPG 3 kilogram disebut-sebut menyentuh angka Rp60.000 per tabung, kegelisahan mulai terasa. Api yang biasanya menghangatkan justru menghadirkan pertanyaan.
Gas melon yang selama ini menjadi “nafas” rumah tangga kecil kini terasa semakin berat dijangkau. Kenaikan harga bukan sekadar angka. Ia ibarat ombak kecil yang jika terus datang bisa menggerus tepian. Sedikit demi sedikit, beban bertambah, dan dapur pun ikut terhimpit.
Warga memahami bahwa dalam rantai distribusi ada biaya dan tantangan yang tidak selalu terlihat. Namun ketika harga melonjak jauh dari kewajaran, keresahan pun muncul. LPG subsidi sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jika kebutuhan dasar ikut membumbung tinggi, maka benar adanya pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”
Bagi pelaku usaha kecil—penjual gorengan, warung makan, hingga pembuat kue rumahan—kenaikan harga gas bukan hanya persoalan dapur rumah, tetapi juga dapur usaha. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual dan berisiko kehilangan pelanggan, atau tetap bertahan dengan keuntungan yang semakin tipis. Seperti kata orang tua dahulu, “Besar pasak daripada tiang,” jangan sampai pengeluaran melampaui pemasukan.



