Antrian BBM Panjang, Pengetap Bebas di Kobar
2 mins read

Antrian BBM Panjang, Pengetap Bebas di Kobar

Kelangkaan Pertalite di Kotawaringin Barat membuat antrean panjang tak kunjung reda. Warga kecewa, pengetap marak, dan keadilan energi dipertanyakan.

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Kotawaringin Barat kembali menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Antrean panjang di sejumlah SPBU seolah menjadi rutinitas baru yang melelahkan. Banyak warga mengaku sering kali tidak kebagian, sementara sebagian orang yang diduga sebagai pengetap dengan mudah mendapatkan BBM dalam jumlah besar.

Di tengah antrean panjang kendaraan roda dua dan roda empat, muncul berbagai dugaan praktik kecurangan di lapangan. Warga menduga ada pengetap yang menggunakan lebih dari satu barcode MyPertamina untuk membeli Pertalite dalam jumlah berlebihan. Praktik ini disebut-sebut menjadi salah satu penyebab cepat habisnya stok di SPBU, terutama pada jam-jam tertentu.“Kadang kami sudah antre lama, tapi begitu giliran tinggal sedikit stoknya. Yang kami heran, orang-orang tertentu bisa bolak-balik isi jerigen dengan barcode berbeda,” ujar seorang pengendara yang enggan disebut namanya.

Ia menilai ada semacam sistem tidak sehat yang membuat masyarakat biasa sulit memperoleh haknya atas BBM bersubsidi. Lebih jauh, warga juga menyoroti adanya dugaan kerja sama antara pengetap dan oknum petugas SPBU. Situasi ini membuat kepercayaan publik terhadap keadilan distribusi Pertalite semakin menurun. “Kalau begini terus, sampai kapan rakyat kecil bisa menikmati Pertalite dengan harga resmi? Kami yang butuh justru tidak kebagian,” keluh seorang warga di kawasan Pangkalan Bun.Masyarakat merasa praktik seperti ini sudah lama terjadi, hanya saja semakin terlihat jelas di tengah kelangkaan BBM.

Pengetap yang seharusnya tidak diperbolehkan membeli dalam jumlah besar justru tampak leluasa keluar masuk SPBU.

Ironisnya, warga yang mengantri dengan tertib justru harus menanggung kerugian waktu dan tenaga tanpa kepastian bisa memperoleh bahan bakar.Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat. Banyak yang berharap agar pihak berwenang turun langsung memantau, bukan sekadar mengandalkan laporan.

Antrean panjang dan pengetapan yang terus terjadi menjadi simbol lemahnya pengawasan serta ketidakadilan dalam sistem distribusi BBM bersubsidi.Warga berharap situasi ini tidak terus berulang. Antrean panjang yang mengular dan dugaan permainan di lapangan bukan hanya soal bahan bakar, tapi juga soal kepercayaan rakyat terhadap keadilan sosial dan tanggung jawab pelayanan publik.